Strategi Inovatif Pra Analitik untuk Meminimalkan Penolakan Sampel Laboratorium
Contributor: 1.cNeike Octary : STIKes Prima Indonesia2. Piere Rikianto : STIKes Prima Indonesia
3. Erik Risnawan : STIKES Guna Bangsa Yogyakarta
Volume: 1 No:1 2025
DOD: https://drive.google.com/file/d/1Xg5QrFWeVjooFDABMxdsR9GdJA8Vv3-T/view?usp=drive_link
Abtsract
Tahap pra-analitik merupakan bagian yang sangat menentukan dalam proses
pemeriksaan laboratorium klinis karena memiliki pengaruh langsung terhadap mutu hasil serta keselamatan pasien. Fase ini mencakup berbagai tahapan mulai dari persiapan pasien, proses pengambilan, pelabelan, transportasi, penyimpanan, hingga pemrosesan
sampel sebelum dianalisis. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mayoritas kesalahan laboratorium justru terjadi pada tahap pra-analitik dibandingkan fase analitik maupun pasca-analitik.
Jenis kesalahan yang sering muncul di antaranya salah identifikasi pasien atau sampel, penggunaan tabung yang tidak tepat, urutan pengambilan darah yang keliru, volume sampel yang tidak mencukupi, pencampuran sampel yang kurang optimal, serta
kondisi penyimpanan maupun transportasi yang tidak sesuai standar.
Kesalahan pada fase ini tidak hanya berdampak pada penurunan kualitas hasil pemeriksaan, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi klinis yang serius. Pada pemeriksaan khusus seperti hemostasis dan koagulasi, kesalahan kecil sekalipun dapat menghasilkan data yang tidak akurat sehingga berpotensi mengganggu proses diagnosis dan terapi pasien. Situasi ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pada tahap pra-analitik tidak dapat ditunda, mengingat perannya yang vital dalam menjaga keandalan hasil laboratorium dan
keselamatan pasien.
Peninjauan ini menawarkan gagasan optimalisasi tahap pra-analitik melalui penerapan strategi edukasi bagi petugas, penggunaan teknologi digital berupa sistem barcode dan formulir elektronik, serta penerapan prosedur kerja yang terstandar. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menurunkan angka penolakan sampel, mempercepat alur kerja, meningkatkan efisiensi, serta menjamin keandalan hasil pemeriksaan laboratorium. Dengan inovasi ini, laboratorium klinis berpotensi memberikan pelayanan yang lebih bermutu, meningkatkan keselamatan pasien, serta berkontribusi pada penguatan sistem kesehatan secara berkelanjutan dan berorientasi
pada mutu.

